Selasa, 07 Juni 2011

Pacaran Or Ta'aruf

Istilah pacaran sebenarnya tidak ada batasan bakunya, namun umumnya yang namanya pacaran itu – apalagi di zaman permisif dan hedonis sekarang ini - tidak lain adalah hubungan lain jenis non mahram dengan segala aktifitas maksiatnya dari khalwat, zina mata, zina telinga dan sampai zina kemaluan. Bahkan beberapa penelitian di berbagai tempat seperti di Yogyakarta beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa sebagian besar pasangan pacaran itu memang telah melakukan hubungan tidak senonoh mulai dari bercumbu, berpelukan, berciuman sampai persetubuhan. Parahnya, semua itu umumnya dilakukan oleh para mahasiswa yang notabene terpelajar dan calon pemimpin bangsa. Jadi hampir bisa dikatakan bahwa pacaran itu tidak lain adalah zina atau minimal mendekati wilayah zina yang memang haram dan dilarang oleh semua agama.

Sedangkan taaruf justru sangat berbeda dengan pacaran. Ta‘aruf adalah sesuatu yang syar‘i dan memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan taaruf adalah dari segi tujuan dan manfaat. Pacaran tujuannya lebih kepada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat. Sedang taaruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan. Dalam pacaran, mengenal dan mengetahui hal-hal tertentu calon pasangan dilakukan dengan cara yang sama sekali tidak memenuhi kriteria sebuah pengenalan. Ibarat seorang yang ingin membeli mobil second tapi tidak melakukan pemeriksaan, dia Cuma memegang atau mengelus mobil itu tanpa pernah tahu kondisi mesinnya. Bahkan dia tidak menyalakan mesin atau membuka kap mesinnya. Bagaimmana mungkin dia bisa tahu kelemahan dan kelebihan mobil itu. Sedangkan taaruf adalah seperti seorang montir mobil ahli yang memeriksa mesin, sistem kemudi, sistem rem, sistem lampu dan elektrik, roda dan sebagainya. Bila ternyata cocok, maka barulah dia melakukan tawar menawar.

Ketika taaruf, seseorang baik pihak laki atau wanita berhak untuk bertanya yang mendetail, seperti tentang penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan lainnya. Kedua belah pihak harus jujur dalam menyampaikannya. Karena bila tidak jujur, bisa berakibat fatal nantinya. Namun secara teknis, untuk melakukan pengecekan, calon pembeli tidak pernah boleh untuk membawa pergi mobil itu sendiri. Silahkan periksa dengan baik dan kalau tertarik, mari bicara harga. Dalam upaya taaruf dengan calon pasangan, pihak laki dan wanita dipersilahkan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan. Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya. Tidak boleh dilakukan cuma berdua saja. Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya, bukan guru atau ustadznya.

Jadi ta‘aruf bukanlah bermesraan berdua, tapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua. Disinilah letak perbedaan antara pacaran dengan taaruf. Pacaran adalah jalan-jalan asyik berdua, jajan, nonton, bermesraan dan bercumbu. Sama sekali tidak ada porsi tentang persiapan real untuk hidup. Bahkan pacaran cenderung bohong dan menipu, karena umumnya masing-masing pihak ingin tampil wah di depan pasangannya. Bedak, gincu, parfum, pakaian bagus, mobil dan segala asesoris lainnya adalah sesuatu yang ditonjolkan. Semua sangat jauh dari kehidupan real nanti dalam keluarga. Padahal setelah menikah, justru semua itu akan ditinggalkan dan masing-masing baru akan tampil dengan wajah dan kelakuan aslinya. Padahal dahulu hal-hal seperti itu tidak pernah dibahas dalam masa pacaran, karena semua waktunya tersita untuk jatuh cinta.

Wallahu A‘lam Bish-Showab, Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Minggu, 05 Juni 2011

Rabu, 01 Juni 2011

Ku ingin Lepas Dari Jeratan Penyakit Al-Isyq


Derita Cinta Ditolak

Cinta memang tak pernah usang untuk dibahas. Selalu ada sisi menarik dari cinta. Cinta terkadang manis, tapi juga akan terasa pahit tergantung bagaimana kita mengelola cinta. Cinta antarmanusia memang tak selamanya akan semanis kurma terkadang apa yang kita cintai meninggalkan kita seperti kisah berikut.

Kita mungkin tak asing lagi dengan kisah cinta Laila Majnun, kisah cinta antara Qeis dan Laila. Di kisah ini Laila benar-benar membuat Qeis gila. Qeis yang memiliki wajah pas-pasan amat cinta dengan Laila karena wajahnya cantik. Tapi sayang, Ayah Laila tidak menyetujui hubungan antara Qeis dengan Laila ditambah Laila dipersunting lelaki lain.

Hal ini membuat Qeis depresi. Ia sering melamun dan sering menyebut nama Laila dan ia lupakan Allah Subhanahu wata’ala yang semestinya ia cintai dan rindukan. Wallahu a’lam.

Sebenarnya masih banyak lagi kepahitan cinta semu antarmanusia akibat terlalu berlebihan dalam mendambakan seorang kekasih yang sudah menghilang. Salah satunya gara-gara cinta ditolak seseorang menjadi buta, ia sampai hati menyebarkan kejelekan orang yang dicintai kepada orang lain salah satunya lewat situs jejaring sosial yang sekarang ini sedang digandrungi para remaja.Selain itu, ada yang tega membunuh orang yang dicintai atau bahkan membunuh dirinya sendiri. Naudzubillahi min dzalik.

Itulah cinta. Cinta semu diantara manusia. Cinta yang didefinisikan sebagai amalan hati yang akan tampak pada amal lahiriah. Apabila cinta tersebut sesuai dengan apa yang diridhai Allah, maka ia akan menjadi ibadah. Namun, jika cinta tidak sesuai dengan ridha-Nya maka akan menjadi perbuatan yang amat merugikan bagi diri sendiri maupun orang lain sebagaimana cinta semu diantara manusia yang bisa membuat seseorang jatuh ke jurang penderitaan lahir maupun batin gara-gara cinta ditolak.

Derita lahir salah satunya depresi atau stress, sedangkan derita batin yakni hatinya menjadi keruh karena sudah dicemari penyakit dan hatinya kering dari kerinduan terhadap Allah.

Apa itu Mahabbah Al-isyq?

Hati yang menjadi buta seperti yang dikisahkan tadi dipicu oleh mahabbah al-isyq. Apa ntu mahabbah al-isyq? Mahabbah al-isyq merupakan jenis cinta yang arahnya lebih pada aspek kesamaan atau kecocokan di antara yang mencintai dan yang dicintai. Kesamaan atau kecocokan di antara manusia berlawanan jenis menimbulkan perasaan suka.

Nah, persamaan kepentingan, sehingga kedua insan padu, akhlak yang baik, rupa cantik atau tampan serta kecerdasan sebagai pemicu mahabbah al-isyq. Qeis suka dengan Laila karena wajah Laila yang amat cantik. Wajah cantik Lailalah pembangkit gejolak mahabbah al-isyq Qeis.

Walaupun, faktor kecantikan atau tampan, kecerdasan, persamaan kepentingan dan akhlak yang baik bukan faktor utama, faktor tersebut seringkali dijadikan dasar kenapa seseorang menyukai lawan jenis.

Sesuai dengan yang dikatakan oleh Ibnul Qoyyim, pada dasarnya manusia ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan hikmahNya yaitu Allah menciptakan makhlukNya dalam kondisi saling mencari yang sesuai dengannya, secara fitrah saling tertarik dengan jenisnya, sebaliknya akan menjauh dari yang berbeda dengannya.

Kok Aku Terjerat Penyakit Al-isyq?

Cinta yang tidak baik dan salah diantara manusia serta tanpa diimbangi dengan cinta kepada-Nya memang akan menyebabkan penyakit. Orang yang terserang penyakit al-isyq akan berbuat apa saja demi cintanya dapat diterima oleh orang yang dicintai.

Hati dan pikiran orang yang terserang penyakit cinta pun semakin tidak karuan, pikiran kotor sering muncul sehingga ide-ide kotor yang hadir dalam pikiran menodai usaha manusia dalam mengejar cintanya pada seseorang.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa penyakit al-isyq agaknya sering menimpa orang yang hatinya kosong dan rasa cinta kepada Allah sangatlah kurang terlihat dari pikiran-pikiran seseorang yang sedang kasmaran menjadi buta dan jauh dari Allah subhanahu wata’ala. Berkata ulama Salaf bahwa penyakit cinta adalah getaran hati yang kosong dari segala sesuatu selain apa yang dicinta dan dipujanya.

Nyata sekali kalau hati kita jauh dari rasa cinta kepada-Nya akan mudah sekali terserang penyakit al-isyq. Kalaulah kita terlanjur diserang penyakit cinta cobalah hati yang kosong dipenuhi dengan mahabbah kita kepada Allah karena ini terapi yang paling diutamakan yaitu mengutamakan cinta kita kepada Allah.

Mahabbah al-isyq akan menjadi penyakit hati apabila ternyata seseorang yang dicintai tak menerimanya karena adanya penghalang seperti perbedaan kepentingan, adanya cela dalam akhlak, serta rupa sehingga menimbulkan salah satu insan pergi meninggalkan seseorang yang awalnya ia suka.

Hilangnya atau kepergian orang yang dicintai membuat dorongan penyakit al-isyq semakin besar. Maka dari itu, perlu adanya terapi agar dapat terhindar dari penyakit al-isyq. Penyakit al-isyq agaknya berbeda dengan penyakit-penyakit pada umumnya dilihat dari segi bentuk, sebab, maupun penyembuhan.

Penyakit ini mampu membuat jiwa dan raga seseorang sakit seluruhnya. Obat penawarnya pun agak sulit dicari bahkan dokter terkadang kewalahan menangani penyakit al-isyq. Eitz, kita tak perlu resah dan takut karena terlanjur terserang penyakit al-isyq, Rasulullah memiliki terapi khusus agar kita terhindar dari penyakit ini, lho. Mau tahu?

Terapi Penyakit Al-Isyq ala Rasulullah

Ada beberapa terapi dalam menyembuhkan penyakit al-isyq ala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disampaikan oleh Ibnul Qoyyim dalam karyanya Zadul Ma’ad. Terapi ini diberikan tentunya karena pada dasarnya manusia memiliki nafsu yang tidak selamanya menguntungkan manusia.

Hal ini sesuai dengan firman Allah :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali-Imran [3] : 14)

Cinta terhadap lawan jenis sewaktu-waktu dapat menuju dorongan syahwat yang berbahaya. Oleh karena itu, agar tidak terjadi sesuatu yang merugikan, tindakan pencegahan lebih awal serta menjauhkan diri dari sikap maupun sarana yang menjurus pada penyakit al-isyq seperti ber-chat ria lewat situs jejaring sosial atau ber-sms dengan lawan jenis juga banyak memberikan immun hati terhindar dari penyakit al-isyq.

Rasulullah menganjurkan kepada pemuda yang telah mampu untuk menikah. Jika memang ada peluang untuk menikahi wanita yang dikasihinya. Namun, bila si pemuda belum siap dianjurkan untuk berpuasa sebagaimana tercantum dalam hadits dari riwayat Ibn Mas’ud Radhiyallahu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hai sekalian pemuda, barang siapa yang mampu untuk menikah maka hendaklah dia menikah , barangsiapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran (kepada perbuatan zina).”

Nyata solusi yang paling manjur untuk orang yang sedang kasmaran adalah menikah dan dengan menikah pastinya akan terhindar dari zina dan tak usah bingung lagi untuk berbalas kasih dengan orang yang dicintai.

Seperti halnya Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tidak pernah melihat ada dua orang yang saling mengasihi selain melalui jalur pernikahan.”

Tidak semuanya orang yang sedang tertimpa penyakit cinta bisa disembuhkan dengan cara menikah dan berpuasa. Karena peluang untuk menikahi orang yang dikasihi terhalang oleh takdir yakni orang yang dikasihi bukan jodohnya. Jika sudah begini, penyakit al-isyq akan semakin parah apabila tidak ditangani sesegera mungkin dengan terapi.

Terapi kedua yakni berpikir positif (Be positive thingking, okey!) dan menyakinkan diri bahwa apa yang menimpa kita kepada orang yang dikasihi adalah takdir Allah subhanahu wata’ala. Berpikirlah bahwa Allah subhanahu wata’ala pasti akan memberikan yang lebih baik karena jodoh sudah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Mencoba sedikit demi sedikit untuk melupakannya dengan cara lebih mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wata’ala dan berdoa kepada Allah diberikan jodoh yang lebih baik.

Bila cara menyakinkan diri bahwa apa yang menimpa cintanya adalah ketetapan atau takdir Allah subhanahu wata’ala tidak mempan juga. Rasa cintanya masih menggebu hendaknya ditangkal dengan beberapa keyakinan tentang risiko yang kita dapatkan jika kita masih bersikukuh mengejar kekasih yang mustahil akan jadi jodohnya karena takdir tidak menghendakinya. Risiko hilangnya seorang kekasih serta siksa di akhirat nanti bila penyakit al-isyq tidak lekas dihilangkan, cobalah dipikir sejenak.

Terapi tersebut juga tak mempan juga, alternatif lain yakni mengubur rasa cinta atau simpati pada lawan jenis dengan apa-apa yang kiranya ada cela dalam akhlaknya, sikap, maupun kecerdasannya dan kekurangan yang lain. Apa-apa yang tidak baik dari lawan jenis membuat penyakit al-isyq yang menggebu agaknya lebih banyak berkurang dan semakin lama akan semakin menghilang penyakit ini.

Dengan mengingat kejelekan dari pemicu penyakit al-isyq, maka semakin mudah jalan penyakit ini keluar dari hati kita.

Secuplik terapi-terapi yang diuraikan oleh Ibnul Qoyyim agaknya mampu membunuh penyakit al-isyq asalkan kita berniat sungguh-sungguh untuk menghindari penyakit al-isyq serta jangan terlalu meratapi dambaan hati yang tak jadi pendamping hidup, bangkitlah dari penderitaan cinta dan bangkit mencari pengganti yang lain, karena rejeki kita siapa tahu. “...dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf [12] : 87)

Bentengi Hati Dengan Tazkiyatun Nufs

Menurut Imam Ibnu Al-Jauzi, ”kecintaan, kasih sayang dan ketertarikan terhadap sesuatu yang indah dan memiliki kecocokan tidaklah merupakan hal yang tercela serta tak perlu dibuang. Namun, cinta yang melewati batas ketertarikan dan kecintaan, maka ia akan menguasai akal dan membelokkan pemiliknya kepada hal yang tidak sesuai dengan hikmah yang sesungguhnya, hal seperti inilah yang tercela.”

Tak ada salahnya kita tertarik atau suka dengan lawan jenis asalkan kita mampu membentengi hati kita dengan tazkiyatun nufs yakni membersihkan jiwa dari penyakit hati agar ketika kita tertimpa sesuatu seperti cinta ditolak kita tak akan mudah jatuh. “Sungguh beruntung orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat (menyebut) nama Rabbnya, lalu dia shalat.” (QS. al-A’la [87] : 14-15)